Rabu, 11 Maret 2009

SEBUAH PENANTIAN


"Dea kapan kamu akan menikah, mak dah ndak sabar mau lihat kamu bersanding dan mak pengen segera menimang cucu. Udah saatnya kamu menikah dea. Apa belum ada cowok yang ingin memperistri kamu.” Kata ibuku sambil memotong sayur.

Dengan jelas kudengar kata-kata lembut dari ibuku membuat aku harus mencari jawaban yang pas agar ibu tidak terlalu kecewa. Jangankan calon suami, berintereksi dengan lawan jenis aja aku jarang. Sempat ku berpikir tentang cowok yang pernah aku kenal saat KKL, aku sempat simpati pada dia, karena banyak sipat dia yang sesuai dengan kriteria suami idamanku. Akh ... itu hanya penilaianku. Belum tentu menurut Allah ia baik untukku.

”Ndak tahu lah bu, mungkin jodohnya belum sampai bu. Ibu berdoa aja semoga dipercepat.” jawabku singkat.

”Aswin tu, gimana orangnya?”

”Baik kok, kami hanya berteman, lagian usianya lebih muda dari saya.

” Ibu lihat akhlaknya bagus, agamanya pun baik. Apa kalian tidak berencana akan menikah”.

”Entahlah bu, kami tidak pernah berbicara tentang hal itu. Lagian aswin masih kuliah dan masih banyak tanggungan”

Lagi-lagi Aswin, aku capek dengar namanya terus. Aswin bukanlah tipe suami idamanku. Ia terlalu gaul, sampai ia lupa mana yang muhrim dan mana yang bukan. Lagu kegemaranya peterpen,

Assalamualaikum, seru Aswin dari luar.

Waalaikum salam, jawab kami serempak

Ibu ku keluar menghampiri” eh Aswin dari mana, masuk aja dulu”.
”Iya bu saya masuk, oya bu ini saya ada bawa kue untuk berbuka hari ini. Dea ada bu?”

”Ada, lagi masak didapur, sebentar ibu panggilkan”

Seperti biasa aswin selalu datang kerumah walau hanya untuk sekedar bertanya kabar denganku. Walau kami sudah lama putus huungan tapi perhatiannya kepadaku tetap seperti saat pacaran. Hanya saja setelah putus kami jarang berinteraksi langsung.

”Aswin, kamu cari aku ya?”

”Iya, aku hanya mau nanya, malam ini kamu tarawih di mana?”
”Biasa masjid dekat rumah. Emang ada apa”.

”Nanti malam aku mau solat disitu juga.”

”Oh begitu, ya terserah kamu sih.”

***
”Assalamualaikum”, Aswin sudah ada di depan rumah

”Walaikum salam,”

”Yok berangkat bareng”

”Kok bareng sih win, bukankah sudah aku ....”

”Ya aku tau, ndak boleh jalan berduaan, tak boleh bersalaman, tak boleh pandang-pandangan, tak boleh bertamu malam hari karna bertentangan dengan syariat Islam”
” Tapi boleh dong sekali-kali.”
”Walau hanya sekali-kali tetap tidak boleh, setan selalu mengintai jika dari sedikitlah maka menjadi bukit”.

”Dea ini yang terakhir, deh aku janji tidak akan ngajak jalan berdua dengan kamu lagi. ”

”Tuh kamu jalan sama bapakku aja ya. Biar saya jalan dengan ama ibu. ”

Ok deh, ketemu dimasjid ya, aslamualaikum

***
Dari pagi aswin sudah ada dirumah, katanya mau bantu ayahku mengecat rumah. Tadi malam mereka ternyata sudah janjian untuk memperbaiki sekaligus mengcat rumah.
Ayah dan aswin tampaknya serius berbicara sambil tertawa-tawa, ku dengar ayah menceritakan hal aku selagi kecil yang cengeng tapi rajin. Ayah juga menceritakan sifat burukku yang suka merajok berhari-hari sampai tidak mau makan.
Tampaknya aswin memperhatikan aktifitasku seharian ini. Ya seperti biasa aku lagi beres-beres rumah, cuci pakaian, nyetrika. Memandikan adikku yang kecil dan menjaganya. Aku rasa tidak enak dirumah karna tak luput dari penglihatannya.
Zuhur hampir tiba, kulihat aswin dan bapak menghentikan perkerjaannya dan segera membersihkan badan dan menuju masjid.

”Win, kita istirahat dulu, nanti baru kita lanjutkan. Kamu berbuka di rumah aja ya”.
”Baiklah pak, lagian tinggal sedikit aja dinding yang mau kita cat. ”

Aswin dikeluargaku sudah seperti keluarga sendiri. Saat kami perlu bantuan, ayah selalu memanggil dia untuk mohon bantuannya.
Azan magrib hampir tiba, makanan sudah aku hidangkan di meja makan. Seluruh keluargaku sudah kumpul untuk buka bersama.

”Siapa yang masak ni bu?”

”Dea, semuanya dea yang masak ibu hanya bantu menghidangkan”.

”Wah hari ini, pertama sekali saya makan masakan dea. Kalo dilihat dari luar sih kayaknya enak ya bu? ”

”Iya, seperti masakan ibunya. Kalo ibunya jago masak anaknya harus bisa. Iyakan win”

”Benar bu. Kata pepatah kalo kelapa jatuh pasti tak jauh dari pohonnya. ”
*****
Ramadhan hampir berakhir, hanya tinggal 10 hari saja. Inilah saatnya aku memperbanyk iktikaf. Walau hanya dirumah sendiriaan.
Kumulai iktikafku yang pertama ini dengan mempernayak tilawah, dan memperpanjang sholat sunnah serta memperbanyak doa. Diantara doaku adalah aku berdoa untuk disegerakan jodoh, dan diberi jodoh yang sholeh dan taat pada orang tua.

Aku tak tau mengapa ayah memnggil aswin pagi-pagi sekali. Paadahal hari ini tidak ada yang ingin dikerjaka mereka.
Sambil membersihkan kamar aku mendengar percakapan ayah dan aswin.
”Win, bapak sudah lama ingin mendapatkan menantu untuk dea, bapak liahat dea sudak selayaknya menikah, bukankah menikah itu sunnah rasul.bapak akan menerima siapa saja pria yang soleh datang untuk memperistri anak bapak. Tak terkecuali kamu.”

”Bapak hanya bisa berdoa agar dea mendapat jodoh yang baik. ”

”Tapi pak saya sekarang masih kuliah dan masih bayak tanggungan, kerjapun belum pasti. Sayapun merasa dea sebaiknya menikah secepatnya, sya perhatikan ia sudah cukup siap untuk menjadi seorang ibu yang maik. Baiklahpak saya akan istiqharah terlebih dahulu. Kalopun jawabannya belum siap saya akan carikan teman saya yang baik akhlaknya dan juga sudah siap. ”

****

”New sms”

Kuraih handphoneku

Murobbi!

”Dea, kamu persiapkan diri karna ada yang ingin taarup dengan kamu. Kapan kamu bisa kerumah kakak.”

Ku balas.
”Siang ini bisa kak habis sholat duhur”

Terpikir oleh ku, siapasih orang yang ingin taarupan denganku? Apakah dia ....
Eh tak mungkin, ia tidak panta bagiku, aku hanya wanita biasa-biasa tidak seperti dia ikhwan pilihan yang banyak disukai oleh akhwat. Dan mana mungkin ia mau melamarku, iakan masih kuliah. Atau jangan-jangan Aswin. Ah siapapun orang yamng melamarku dan ia soleh maka aku tidak akan mempersulit untuk menerimanya.

” dea ini biodatanya, katanya sebelum ini ia pernah melihat kamu”

Kubaca secara detail proposal nikah yang telah dibuatnya, nama Helmiyanto, tempat, tanggal lahir, pontianak 14 Mei 1985, perkerjaan suasta, alamat pontianak. Hobi sepak bola. Tujuan menikah, prestsi yang pernah didapat, makanan kegemaran, kriteria istri, keluarga yang diharapkan dan lain-lain, semua sudah kubaca. Hanya saja aku belum melihat fotonya karna terburu sudah ada yang datang.
Murobbiku mempersilakan masuk kepada tamu tersebut, aku masih sibuk membaca isi proposalnya.

” Dea ikhwannya sudah ada diluar, kamu harus keluar sekarang. Kami akan memperkenalkan kalian berdua” hatiku berdetak kencang, siapkah aku menjalani taaruf ini”.

Ku berjalan menuju ruang tamu dan duduk di kursi dekat dengan murobbiku, aku merasa diperhatikan sejak keluar dari dapur. Kuberanikan untuk melihat dua orang didepanku. Ku berfikir, mana satu yang akan melamarku, kok dua-duanya sepertinya sudah menikah. Ku berusaha mengiklaskan hati menjalani proses taarupnya.

”Pak, ini dea, orang yang akan kita taarufkan hari ini”.

”Orang tuamu kerja apa dea? Kata bapak yang lebih tua”.

”Petani pak”.
”Dea sekarang kerja apa? Kata bapak satunya, yang menurutsku ia adalah helmiyanto yang akan melamarku

”Saya baru selesai kuliah di STAIN jadi sekarang belum bekerja”.

”Kamu sudah siap menikah dea”

”InsyaAllah siap pak. ”
”Bagaimana bisa dilanjutkan ke pernikahan?”kata bapak yang lebih tua.

”Sebelumnya saya ingin bertanya. Apakah helmi sudah pernah menikah sebelumnya dan mengapa pak helmi memilih saya untuk dijadikan istri.”

Oh.... belum pernah jawab mereka serentak, malah dia sebaya denganmu”.

”Jadi siapa Helmiyanto”.

Assalamualaikum. Terdengar suara dari luar, sepertinya aku kenal dengan suara itu. Kulihat keluar.

Waalaikum salam. Hatiku seakan tak percaya, yang datang adalah temanku saat KKL dahulu. Pria bertubuh alletis, berkulit putih, suara serak dan berwajah manis.

”Ni orangnya”

Kulihat ia sedang membawa tas, dan menyimpan tas tersebut di atas meja. Tas yang berisi buah-buahan.

”Dea pa Kabarnya?”

”Baik”, jawabku.

Diluar dugaanku, helmiyanto datang untuk taaruf denagnku, itu artinya ia ingin melamarku.
Taarup berjalan dengan lancar hingga terjadi kesepakatan untuk saling istigharah terlebih dahulu salama satu minggu. Kalo sama-sama menyetujuai baru dilanjutkan dengan pelamaran.

Aku pulang kerumah dan menceritakan semuanya kepada kedua orang tuaku. Sekaligus memberikan proposal nikah berserta fotonya kepada mereka. Aku mohon kepada eduanya untuk menistigharahkan aku dan helmiyanto.
Berita ini ayah ceritakan dengan Aswin. Ku lihat wajah kecewa bercampur bahagia padanya. Aku tak tau apa yang dirasakannya. Tapi yang jelas ia sangat baik terhadap keluargaku dan kami pernah pacaran selama 2 Thun Sebelum aku mengenal tarbiyah.

Aku bingung apakah harus menerima atau tidak, jika aku menerima bagaimana dengan Aswin, bukankah keluargaku sudah mendambakan menantu seprtti dia. Kalo aku tolak berarti aku telah menyianyiakan lamaran seorang yang beriman, padahal itu dilarang. Aku jadi ragu untuk memutuskan. Empat hari terakhir aku masih meragukan jawaban istegharahku. Dan malam kelima aku merasa yakin dengan pilihan. Bahwa aku sudah siapa menikah dan akan menerima lamaran helmiyanto.

”Dea mak dan ayah udah sepakat, tentang pilihanmu. Semuanya kami serahkan padamu. Tentang helmiyanto ibu dan bapak tidak masalah.”

2 Syawal aku resmi dilamar dan menjadi tunangan helmiyanto. Pesta pernikahan dan akad nikah direncanakan dilaksanakan pada hari minggu 25 Syawal 1429 H/ 25 Oktober 2008 bertepatan dengan tanggal lahirku.

Tidak ada komentar: